Menjaga kewarasan
MENJAGA KEWARASAN
Setiap pribadi punya sikap masing masing dalam bertatap dengan hidup, ada yang tersungkur kemudian tergeletak, ada yang merajut asa sambil mengangkat angan kepada yang kuasa sembari membisik perih. Hidup bisa berarti rajutan doa dan usaha yang satu persatu dijahit berharap tuhan berkenan tertarik untuk membeli. Kemudian bagaimana nasib orang yang tak berusaha dan berdoa? Lantas apakah tuhan berkenan, atau berhasrat untuk mengacuhkan?
Ada yang harapnya diijabah, tapi kebebasan dijajah, ada yang digaji puluhan juta, tapi diikuti ketakutan besi penjara, ada yang berpangkat tinggi, tapi nurani dijeruji, ada yang berkuasa, tapi kejujuran dijadikan tuna wicara, dan sebagian lain memilih hidup beruntung, menjadi merdeka dengan pilihan hidup yg diinginkan, hati tenang merasa tidak ada yg dikhawatirkan,tak berkuasa tak apa asal empati simpati masih ada, lebih elok merdeka oleh nikmat yg sudah diberi, daripada harus menjadi komunis nafsu duniawi. Tinggal manusia yg memilah, mau terlihat sempurna dari rupa yang mana .
Paling kaya rasanya, yang tak punya apa apa , tapi tak berharap apa apa, menikmati hidup yang dijalani, bukan melihat nikmat yang tidak diberi, penderitaan terletak pada ambisi otak terhadap sesuatu yang harus bisa tercapai, ketika tidak tercapai, ego diri melampiaskan dengan mencaci maki tuhan, seakan asmaul husna yang berjumlah sembilan puluh sembilan ,hanya tinggal satu bacaan "Mengecewakan". Tuhan tidak membuat jalan hanya lurus, kadang perihal yang dibelokan lah yang menjadi jalan alternatif untuk lebih cepat ke tujuan.
Komentar
Posting Komentar